sopan nggak sih mempromosikan pariwisata di masa pandemi seperti ini?
Kadang-kadang kami berpikir, apa sopan promosi pariwisata di era pandemi seperti sekarang ini.
Banyak yang kehilangan anggota keluarga, ada yang kehilangan pekerjaan, harus menutup bisnis yang sudah dibangun bertahun-tahun, dan banyak lagi musibah yang dialami.
Sebagai penggemar petualangan naik mobil lintas negara, gemes banget sudah mau jalan-jalan. Tetapi sebagai warga negara yang baik, tentunya kita juga harus mendengar himbauan pemerintah untuk tidak turut menyebar virus gila ini.
Bagi yang tinggal di dekat perbatasan pasti paham betul kalau penutupan perbatasan bisa terjadi sewaktu-waktu dan juga perubahan peraturan tentang lintas batas yang berubah-ubah di era pandemi ini.
Masih menempel di kepala pernyataan salah satu petinggi di Kemeparekraf dalam sebuah wawancara bahwa promosi pariwisata terus dilakukan untuk menjaga agar pariwisata negara tetap eksis di kancah dunia.
Dan kalau dilihat dari promosi yang dilakukan oleh negara lain juga luar biasa gencarnya. Bahkan negara yang tadinya bukan (tidak terkenal sebagai tujuan wisata) negara tujuan pariwisata, seperti Saudi Arabia, gencar sekali mempromosikan fitur-fitur wisata di negaranya di berbagai media.
era pandemi mengubah wajah pariwisata dunia
pariwisata di era pandemi: harga penawaran yang kadang-kadang bikin nangis
Yups, harga yang ditawarkan kadang kadang bikin nangis…, murah banget, tapi nggak bisa pergi. Kalau bisapun, belum tahu apa bisa pulang, hiks…
Pengalaman di bulan Desember kemarin, dapat penawaran murah banget ke salah satu pulau (Mallorca) di perairan Mediteranian. Harga ongkos transportasi (pesawat) dan penginapan untuk satu minggu lebih murah dari pada ongkos perjalanan domestik dari bagian selatan Swedia ke ibu kota Swedia (Stockholm).
Ditambah biaya sewa mobil, jatuh-jatuhnya murah banget. Masalahnya, kalau tiba-tiba harus menjalani karantina atau ada perubahan peraturan – contohnya lockdown, maka biaya yang dikeluarkan menjadi nggak jelas…
Baca: 5 Jalur Wisata Di eropa yang wajib masuk bucket list
tips melakukan perjalanan wisata di era pandemi
Dulu, kayak udah lama sekali, kalau mau jalan-jalan naik mobil ke Jerman dari Swedia misalnya, tinggal isi bensin langsung jalan. Sekarang baru sampai perbatasan antara Swedia dengan Denmark, antrian sudah panjang, dan mesti siapin semua dokumen-dokumen yang dibutuhkan, itu belum jawab pertanyaan dari petugas.
Terus kalau sudah sampai di tujuan, juga was-was apakah bisa balik lewat jalan yang sama atau mesti naik kapal laut (ferry) supaya nggak lewat banyak perbatasan.
Ini ada tips yang bisa jadi bahan buat persiapan kalau mau naik mobil lintas negara di era pandemi:
- Yang pertama-tama, pikirkan dulu dengan matang apa perjalanan ini penting atau tidak.
- Cari tahu tentang peraturan peraturan yang berlaku di negara asal, maupun negara-negara yang akan di lewati dan di tuju. Kalau bisa cek berkala (harian) agar selalu memiliki informasi yang terbaru.
- Peraturan-peraturan diatas juga termasuk jumlah orang yang diperbolehkan berada di dalam satu kendaraan. Satu hal yang kita semua nggak mau alami adalah meninggalkan seseorang di perbatasan, iya kan…?
- Selalu punya back-up plan. Jadi jika salah satu negara bordernya di tutup kita punya rencana cadangan – rute jalan, tempat menunggu, dan lain-lain.
- Yang terakhir, harus memiliki budget cadangan, di era pandemi seperti sekarang ini, punya cadangan budget perjalanan sangat penting, kita tidak tahu apa yang akan terjadi, atau apa tiba-tiba kita harus menjalani karantina di satu negara. Kalau nggak punya budget cadangan bakal menemui kesulitan.
[convertkit form=2053767]
pariwisata di era pandemi: sopan nggak sih? Ini kesimpulannya
Buat kami yang suka jalan-jalan, tentunya promosi pariwisata yang dilakukan oleh para penggiat pariwisata baik dari sisi pemerintahan maupun industri pariwisata, sah-sah saja.
Sebagai orang dewasa tentunya kita memiliki nalar-nalar yang dapat menentukan apakah perjalanan wisata lintas negara penting di lakukan atau bisa menunggu.
Buat para penggiat pariwisata mungkin seperti yang disampaikan oleh salah satu petinggi di kementrian, bahwa mereka lakukan itu agar eksistensinya tetap terjaga, dan mereka tidak kehilangan momentum.
Suka atau tidak, pandemi ini membuat industri pariwisata benar-benar down.
Bagaimana menurut kamu? Apakah melakukan promosi pariwisata di era pandemi ini sopan? Tulis komentar kamu di kolom komentar di bawah!
Dari kami, tetap semangat, jaga kesehatan, dan tetap jaga jarak…
Team Liputan+
Tulisan Yang menggelitik, tapi pastinya juga banyak yang punya pemikiran yang sama. Jadi sebenarnya sih sopan sopan aja mau promosi pariwisata, apalagi dengan cara yang sehat dan tidak membahayakan orang lain. Lakukanlah kepada orang lain seperti kamu mau orang lain juga melakukannya kepadamu.. ya kan? Terlebih kalau niatannya promosi pariwisata sekalian juga menyemangati orang lain untuk menghadapi normal yang baru setelah pandemi dengan cara yang asik. bikin rencana perjalanan itu juga asik lho, sambil belajar, problem solving, asah otak dan skillsets. keren lah pokoknya ide liputan plus ini. !!
Hello,
Terima kasih untuk komentarnya. Senang sekali mendengar kalau kamu sependapat dengan kami.
Mempromosikan pariwisata bukan berarti kita tidak menghormati keadaan, tetapi memberikan harapan untuk menghadapi normal yang baru.
Sekali lagi terima kasih.., tetap semangat, dan jangan lupa tetap jaga jarak…
Team Liputan+